Kuliner “Extrem” Di Tanah Minahasa - Muda Sejiwa

Muda Sejiwa

Berbagi Informasi dan Ilmu. Memberi Inspirasi dan Membuka Cakrawala Pengetahuan

Post Top Ad

Kuliner “Extrem” Di Tanah Minahasa

MINAHASA – Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) selain dikenal dengan julukan Nyiur Melambai, juga terkenal dengan makanannya yang ekstrem – ekstrem.

Selain makanan ekstrem yang sudah diolah dan siap saji, ada tempat dimana kita bisa menjumpai berbagai macam hewan yang diperdagangkan.

Di antaranya adalah anjing, kucing, tikus, kelelawar (paniki), ular phyton (patola), biawak, luwak (kuso), kadal dan beberapa hewan lainnya. Ekstrem dan sungguh tak lazim bagi orang kebanyakan.

Apalagi disaat perayaan Natal dan Tahun Baru, jauh – jauh hari banyak pembeli yang memesan hewan – hewan ekstrem ini, untuk diolah dan disajikan buat tamu yang berkunjung.

Pasar Langowan Kabupaten Minahasa, sejak dulu terkenal dengan pasar yang sering menjajakan hewan – hewan yang sebagian orang hewan tersebut merupakan hewan peliharaan.

Untuk ke pasar langowan, dari Kota Manado hanya butuh berkendara sekitar 90 menit, dari terminal Karombasan Manado tinggal naik bus jurusan Tondano atau lansung ke langowan keterminal untuk ke Walantakan, bisa naik ojek lansung ke ke lokasi pasar.

Anda penasaran bagaimana kondisi Pasar Ekstrim dan Kuliner Ekstrim ini?

Kalau ke Sulut, sempatkan diri mampir ke tempat ini, dan saksikan langsung bagaimana hewan-hewan tak lazim berada di lapak pedagang, dan bagaimana warga menyantapnya.

Tapi bagi warga Minahasa, olahan daging hewan-hewan ini punya magnet tersendiri. Di Sulawesi Utara, ada dua pasar yang khusus menyediakan daging hewan-hewan ini, yakni di Pasar Tradisional Tomohon dan Langowan.

Kedua pasar ini pun telah menjadi destinasi wisata Sulut. Hanya saja, Pasar Tomohon lebih sering dikunjungi wisatawan. Tak hanya orang Indonesia saja, tapi telah menarik banyak wisatawan asing.

Jijik dan seperti mau muntah. Yah itulah yang dirasakan banyak wisatawan yang melihat keberadaan pasar ini. Bahkan ada yang tak sanggup melihat lama-lama, atau bahkan sampai menangis saat melihat seeokor anjing sedang dipotong penjualnya.

Mikael Walangitan, salah satu penjual hewan ekstrem ini mengatakan, kalau hewan yang dijual kebanyak sudah mati sebelumnya, tapi ada juga yang dijual masih hidup dan tergantung permintaan pembeli, apa mau dipotong lansung atau dibawa pulang.

“Hewan yang dijual umumnya telah dalam keadaan mati dan telah hangus terpanggang. Tapi ada juga yang belum dibakar hewannya, seperti kelelawar, kucing, dan tikus karena banyak pembeli inginnya dibakar hidup-hidup” jelas Mike, pada deliknews, Kamis, 4/1/18.

Yang paling menarik perhatian adalah pemandangan anjing-anjing hidup yang sedang menunggu untuk dipotong. Berada di box besi, dalam keadaan lemah, anjing-anjing ini tampak stres. Di depan mereka, para penjagal anjing memotong sejenisnya. Mengerikan dan sungguh menyayat hati, terutama bagi mereka para pencinta anjing.

Namun ketaklazimannya pasar ekstrim inilah yang menjadi magnet para pengunjung yang datang ke tempat ini. Penasaran dan rasa ingin tahulah yang menjadi alasan berkunjung ke sini, meski kening akan selalu mengerut saat menyaksikannya.

Tak kalah menarik juga adalah rumah makan dengan menu ekstrem, terlihat jejeran rumah makan ini bisa ditemui di Langowan. Mulai dari pusat kotanya, hingga ke pinggiran-pinggiran.

Pencarian deliknews untuk mencari rumah makan ekstrem ini, berujung pada sebuah salah satu rumah makan yang berlokasi di Desa Walantakan Jaga IV, Kecamatan Langowan Utara.

Di rumah makan ini, olahan daging hewan-hewan tersebut dapat ditemui. Seporsi daging jenis apa saja dijual Rp 25 ribu, nasi Rp 5 ribu per porsi, dan sayur Rp 5 ribu per porsi.   Jika ingin makan, biasanya daging, sayur, dan nasi menjadi paket lengkap. Rumah makan ini menyajikan bumbu yang sama, pada semua jenis daging. Cita rasa daging-daging hewan itulah yang membedakan satu dengan lainnya.

Daging-daging hewan ini pastinya dioleh dengan bumbu khas Minahasa, yang dikenal kaya bumbu dan bahan, terdiri dari serei, pandan, daun lemon, lingkuas, rempah-rembah, serta cabai, umbu khas Minahasa kaya bumbu, dan pasti pedas.

Kuliner ekstrem ini rasanya kurang pas jika tak pedas. Seperti dituturkan oleh Stevi Kiroyan salah satu penikmat kuliner ekstrem ini, dia setiap minggu kalau ke langowan pasti akan mampir untuk menikmati sensasi kuliner eksterem ini.

“ Pokoknya setiap minggu pada hari sabtu, saya harus mampir dan menikmati sensasi makanan khas minahasa ini, sudah rasanya enak dan yang pasti harganya terjangkau” pungkas Stevi.

Karena dari cita rasa inilah, kekhasan daging ekstrem ala Minahasa. Yang membuat kuliner ini enak yakni takaran bumbunya yang banyak. Dan memang, selain pedas, kekayaan bumbu Minahasa memang sesuai dengan ukuran lidah orang minahasa.

(Thayeb)

Post Bottom Ad