Sudah puas "lobi lobi" tidak jelas, BEI dan OJK bergerak. Dan hasilnya. Duaaaar.
IHSG "kebakaran"
Alasan nya konflik timur tengah. Dan tentu saja semua terdampak.
Padahal sehari setelah perang Investasi asing masih Deras masuk.
Aksi panic selling lebih kepada investor domestik.
Beda saat pembekuan MSCI dan lembaga indeks lainnya. Secara teknikal mereka lebih berpengaruh karena menjadi acuan bagi fund Investment global.
Pasar global banyak yg terdampak konflik timur tengah, tetapi sudah menunjukan tanda rebound. Beda dengan IHSG yang malah makin turun dan di terpa berbagai badai.
Mungkin yang terparah adalah pasar bursa Korea Selatan, tapi setelah melewati reli dan kenaikan signifikan sebulan terakhir.
Awal perang tidak terlalu berpengaruh. Tapi.....
Tiba tiba BEI membuka data 1 persen kepemilikan.
Langkah yang bagus..!!
Hanya momentumnya yang tidak tepat.
Dikala investor memantau dampak konflik timur tengah, sedikit goncangan saja sudah "menakuti" pasar.
Apapun target perbaikan Bursa Saham Indonesia yang mempengaruhi ekosistem pasar pasti akan menekan pasar.
Penambahan free float, keterbukaan beneficial owner, pengusutan kasus saham gorengan dll.
Sedikit saran saya yang mencoba ingin membantu.
1. Mensuspen sementara saham yang terindikasi ada tindak pidana. Karena terkadang pengendali juga ikut terlibat "bermain". Beri kesempatan investor untuk ambil keputusan agar tidak terjadi panic selling.
2. Pemberlakuan freefloat kepada target indeks global lebih diutamakan karena kenaikan ini membutuhkan kestabilan pasar dan kepercayaan investor.
3. Percepat perijinan right issue, saham bonus, maupun buy-back dari perusahaan yang ada dibursa. Ketidakpastian itu berbahaya.
4. Keadilan bagi seluruh stakeholder bursa saham. Bukan rahasia lagi bahwa peraturan suspend ARA dan ARB tidak jelas, tidak adil, tidak jelas bagaimana mekanisme nya.
5. Keterbukaan penambahan modal melalui mekanisme bursa saham yang menampung uang masyarakat, peruntukan dana yang terkumpul dan target perusahaan. Tidak jarang perusahaan dapat dana jumbo, hanya untuk di "endapkan" di produk instrumen keuangan. (Pengecualian perusahaan di sektor finansial).
6. Menjerat pidana bagi para pelaku penggoreng saham. Sesuai dengan UU ITE "penyebaran berita bohong untuk keuntungan pribadi dan menyebabkan kerugian orang lain". Tidak semua investor "melek" informasi. Bahkan ada yang tidak tau fungsi dan fitur bursa saham. Kalau kita melihat banyak yang tertipu investasi bodong tidak masuk akal, dan kasus robot trading atau penipuan kripto. jangan berpikir seolah semua investor tau instrumen bursa saham. Banyak yang bilang goreng saham itu wajar, ya begitulah pasar. Tapi menurut saya, gorengan di Bursa Indonesia itu "sadis", Dicampur tipu tipu . Bukannya performa perusahaan. Bahkan dari kasus kemarin yang terkena denda tidak membuat jera, malah menjadi semakin brutal . Mungkin untuk menutupi uang denda.
7. Mengenai indeks global, jangan terlalu ngotot lobi sana sini. bursa efek juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi negara. Jadi fokus pada ekosistem pasar. Selama standar kita baik, kita bisa membela diri bila diperlakukan tidak adil. Dan investor juga pasti akan melihat kebenarannya. Terlalu sibuk lobi lobi malah semakin membuat investor curiga bahkan ada sesuatu yang kurang, yang coba dinegosiasikan.
8. Lupakan dulu teori konspirasi. Kalau fundamental kita bagus dan masih di"pukuli" baru kita bisa bilang ada "sesuatu dibaliknya". Tapi kalau memang kenyataannya pasar kita berantakan, kita harus sadar kalau itu "bom waktu" yang kita simpan sendiri.
Sedikit saran dari saya, semoga bisa membantu.
Biarpun pasar pasti akan kembali normal besok.
Selama ekonomi negara baik baik saja pasti bursa efek kita juga kuat.
Bursa efek Indonesia seharusnya bisa menjadi etalase Dimata Global. Bahwa kondisi ekonomi Indonesia positif dan terus bertumbuh.
Bukan malah jadi beban yang membuat ekonomi Indonesia terlihat tidak stabil dimata Global.
Terimakasih.
Arifin Nur Cahyono


